Mengajar: Metode Pembelajaran Kooperatif
Metode Pembelajaran
Ada beberapa pendapat dari para ahli mengenai pengertian metode pembelajaran.
Menurut Mulyani Sumantri (2001 : 114) metode merupakan cara-cara yang ditempuh
guru untuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan
mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar anak
yang memuaskan.
Menurut Mulyati Arifin (1990 : 107) metode mengajar menyangkut permasalahan
kegiatan fisik apa yang harus diberikan kepada siswa sehingga kemampuan
intelektualnya dapat berkembang, sehingga belajar dapat berjalan secara
efisien dan bermakna bagi siswa. Metode mengajar menurut Slameto (1995 : 65)
adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui didalam mengajar.
Untuk mencapai hal-hal tersebut maka guru harus dapat memilih dan
mengembangkan
metode pembelajaran
/ mengajar yang tepat, efisien dan efektif sesuai dengan materi yang
diajarkan. Dengan pemilihan metode yang tepat, maka akan mempengaruhi belajar
siswa dengan baik sehingga siswa benar-benar memahami materi yang diberikan.
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan pengertian metode pembelajaran
adalah cara-cara yang ditempuh oleh guru untuk menciptakan situasi pengajaran
yang benar-benar menyenangkan dan membuat kemampuan intelektual siswa
berkembang, sehingga belajar dapat berjalan secara efisien dan bermakna bagi
siswa.
Metode Pembelajaran Kooperatif
Bekerja sama berarti melakukan sesuatu bersama dengan saling membantu dan
bekerja sebagai tim (kelompok). Jadi,
metode pembelajaran kooperatif
berarti belajar bersama, saling membantu pembelajaran agar setiap anggota
kelompok dapat mencapai tujuan/menyelesaikan tugas yang diberikan dengan baik.
Dalam pembelajaran kooperatif, siswa dikelompokkan secara variatif (beraneka
ragam) berdasarkan prestasi mereka sebelumnya, kesukaan/kebiasaan, dan jenis
kelamin (Slavin, 1995 : 3).
Menarik dibaca juga: Metode Pembelajaran Demonstrasi dan Teori Belajar
Menurut Lee Manning dan Lucking dalam Slavin (1995 : 5) belajar kooperatif
mempunyai kelebihan yang tidak ditemukan dalam kegiatan individual seperti
interaksi sosial, pertanggung jawaban individu dan kerja sama dalam kelompok.
Dalam kegiatan belajar individual cenderung mementingkan pribadi dan tidak
memperhatikan lingkungan sekitarnya. Menurut Dewey dalam Davies (1982 : 31)
kegiatan belajar individual maupun belajar bersama dalam kelompok harus
didukung oleh inisiatif dari masing-masing pribadi karena kegiatan belajar
menyangkut apa yang harus dikerjakn oleh mereka.
Dalam teori konstruktivisme peserta didik harus menemukan sendiri dan
memecahkan informasi baru dengan aturan lama dan merevisinya apabila
aturan-aturan itu tidak sesuai lagi. Sesuai dengan disiplin ilmu kimia dimana
dalam hal ini perkembangan dalam dunia kimia sangat dinamis maka kondisi
seperti ini mutlak diperlukan. Pandangan konstruktivisme menyatakan bahwa
peserta didik diberi kesempatan agar menggunakan suatu strategi sendiri dalam
belajar secara sendiri dan pendidikan dalam hal ini membimbing peserta didik
ke tingkat pengetahuan kearah yang lebih tinggi. Oleh karena itu, agar peserta
didik benar-benar memahami mereka harus bekerja keras untuk memecahkan masalah
dan kesulitan yang ada dengan ide-ide dan kemampuannya.
Ide pokok pada teori konstruktivis adalah peserta didik secara aktif membagi
pengetahuan mereka sendiri. Pendekatan dalam pembelajaran konstruktivisme
dapat mengguanakan pembelajaran secara kooperatif ekstensif. Menurut teori ini
peserta didik akan lebih mudah menanamkan dan mengerti akan konsep-konsep yang
sulit jika mereka dapat membicarakan dan mendiskusikan masalah tersebut dengan
temannya. Peserta didik secara rutin bekerja dalam kelompok yang terdiri
sekitar 4 orang untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah dalam hal ini
penekanannya pada aspek social dalam pembelajaran dan penggunaan kelompok yang
sederajat untuk menghasilkan pemikiran. Pada sistem pengajaran ini
memberij\kan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan
temannya dalam tugas-tugas terstruktur dan inilah yang disebut pengajaran
gotong royong/cooperative learning
(Slavin, 1995 : 2).
Menurut Slavin (1995 : 2), keberhasilan dari proses belajar kooperatif adalah
karena
lima prinsip, yaitu:
- Adanya sumbangan dari ketua kelompok, Tugas dari seorang ketua kelompok adalah memberikan sumbangan pengetahuannya untuk anggota kelompoknya, karena ketua kelompok adalah seseorang yang dinilai berkemampuan lebih dibandingkan dengan anggota yang lainnya. Dalam hal ini anggota kelompok diharapkan dapat memperhatikan, mempelajari informasi/ penjelasan yang diberikan oleh ketua kelompok jika ada anggota kelompok yang merasa belim jelas, walaupun tugas ini bisa dilakukan oleh anggota lain.
- Keheterogenan kelompok, Kelompok belajar yang efektif adalah yang mempunyai anggota kelompok yang heterogen, baik dalam jenis kelamin, latar belakang sosial, ataupun tingkat kecerdasan.
- Ketergantungan pribadi yang positif, Setiap anggota kelompok belajar untuk berkembang dan bekerja sama satu sama lain. Ketergantungan pribadi ini dapat memberikan motivasi bagi setiap individu karena pada awalnya mereka harus bisa membangun pengetahuannya sendiri terlebih sebelum mereka bekerja sama dengan temannya.
- Ketrampilan bekerja sama, Dalam proses bekerja sama perlu adanya ketrampilan khusus sehingga kelompok tersebut dapat berhasil membawa nama kelompoknya. Proses yang dibutuhkan di sini adalah adanya komunikasi yang baik antar anggota kelompok.
- Otonomi kelompok, Setiap kelompok mempunyai tujuan agar bias membawa nama kelompoknya untuk menjadi yang terbaik. Jika mereka mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah setelah melampaui tahap kegiatan kelompok maka mereka akan bertanya kepada gurunya bukan kepada kelompok lain.
Di dalam metode mengajar kooperatif diharapkan siswa bekerja sama satu sama
lainnya berdiskusi dan berdebat, menilai kemampuan pengetahuan dan mengisi
kekurangan anggota lainnya. Bila diorganisasikan dengan tepat, siswa dapat
bekerja sama dengan yang lainnya untuk memastikan bahwa setiap siswa dalam
kelompok tersebut telah menguasai konsep yang telah diajarkan. Hal ini akan
menumbuhkan realisasi bahwa siswa membutuhkan belajar dan berpikir untuk
memecahkan masalah dan meng
aplikasi
kan pengetahuan dan ketrampilannya.
Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
STAD (Student Team Achievement Division) merupakan pembelajaran kooperatif
yang dikembangkan oleh Robert E. Slavin. Secara umum terdiri dari 5 komponen
utama, yaitu:
-
Presentasi Kelas
Materi dalam STAD adalah pengenalan awal dalam presentasi kelas. Presentasi kelas ini bias dilakukan secara pengajaran langsung atau pengajaran diskusi dengan guru, tetapi bisa juga dengan presentasi dengan menggunakan audio visual. Presentasi kelas dalam STAD berbeda dengan pengajaran pada umumnya karena dalam STAD ada suatu penekanan materi.
Dalam hal ini siswa dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam memperhatikan materi yang diberikan oleh guru dalam presentasi kelas karena akan membantu dalam mengerjakan kuis dan menentukan skor dari pengajaran kuis yang pada nantinya juga akan mempengaruhi skor dari tim mereka.
-
Tim/kelompok
Tim terdiri dari 4-5 siswa yang mewakili bagiannya baik jenis kelamin, suku etnik dalam kelas untuk menjalankan aktivitas akademik. Fungsi utama dari tim adalah membentuk semua tim agar mengingat materi yang telah diberikandan lebih memahami materi yang nantinya digunakan dalam persiapan mengerjakan kuis sehingga dapat mengerjakn dengan baik. Sesudah guru mempresentasikan materi, tim segera mempelajari lembar kerja atau materi lain.
Dalam hal ini siswa biasanya menggunakan cara pembelajaran diskusi tentang masalah-masalah yang ada, membandingkan soal-soal yang ada. Tim merupakn hal penting yang harus ditonjolkan dalam STAD. Dalam setiap langkah, titik beratnya terletak pada ingatan tim agar bisa bekerja yang terbaik demi timnya dan cara yang terbaik dalam tim adalah kerjasama yang baik.
-
Kuis
Setelah 1-2 periode dari presentasi guru dan 1-2 periode dari ketua tim, siswa mengerjakn kuis secara individu. Siswa tidak boleh memberikan bantuan pada siswa lain, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui pemahaman materi setiap individu.
-
Skor Perbaikan Individu
Hal ini dimaksudkan untuk memberikan nilai pada setiap siswa jika mereka mengerjakn dengan baik. Masing-maasing siswa diberikan skor "cukup" yang berasal dari rata-rata siswa pada kuis yang sama. Setelah siswa mendapatkan nilai maka siswa berhak mendapatkan urutan tingkatan nilai dari skor kuis dan berusaha untuk melampaui skor cukup.
-
Pengakuan Tim
Tim mendapatkan penghargaan jika dapat melampaui kriteria yang telah ditentukan. Skor tim siswa akan digunakan untuk menentukan tingkatan pemahaman siswa.(Slavin, 1995 : 71-73)
Dalam pelaksanaannya, metode pembelajaran kooperatif STAD mempunyai langkah-langkah sebagai berikut:
-
Tahap Penyajian Materi Pelajaran
Pada tahap ini bahan-bahan atau materi pelajaran kimia diperkenalkan melalui pengajaran secara langsung. Dalam penyajian ini maka perlu ditekankan pada :
-
Pendahuluan
Dalam pendahuluan guru menekankan pada apa yang akan dipelajari peserta didik (siswa) dan mengapa itu penting. Hal ini dilaksanakan untuk memotivasi siswa dalam mempelajari konsep yang telah diajarkan.
-
Pengembangan
a) Menentukan tujuan-tujuan yang akan dicapai
b) Pembelajaran kooperatif menekankan bahwa belajar adalah memahami makna dan bukan hafalan.
c) Memberikan penjelasan mengapa jawaban pertanyaan tersebut benar atau salah.
d) Beralih pada konsep yang lain jika siswa menguasai pokok masalahnya.
-
Praktek Terkendali
a) Menyuruh siswa mengerjakan ssoal atau pertanyaan yang diberikan.
b) Memanggil peserta didik secara random untuk menyelesaikan soal.
c) Pemberian tugas kelas.
-
Pendahuluan
-
Kegiatan Kelompok
Selama kegiatan kelompok masing-masing siswa bertugas mempelajari materi yang telah disajikan oleh guru dan membantu teman sekelompok untuk mengasai materi pelajaran tersebut. Guru memberikan lembar kegiatan dan kemudian siswa mengerjakannya secara mandiri dan selanjutnya saling mencocokkan jawabannya dengan teman sekelompoknya. Apabila diantara teman sekelompok tersebut ada yang kurang memahami maka anggota kelompok yang lain membantunya.
Guru menekankan bahwa lembar kegiatan untuk dipelajari bukan untuk diisi atau diserahkan pada guru. Apabila peserta didik mempunyai suatu permasalahan, sebaiknya ditanyakan terlebih dahulu pada anggota kelompoknya kemudian kalau tidak mampu baru ditanyakan pada gurunya.
-
Kuis (individu)
Kuis dilaksanakan secara individu. Siswa tidak diijinkan meminta atau memberi bantuan kepada siswa lain dalam mengerjakan kuis. Hal ini untuk mengetahui pemahaman materi setiap individu dan selanjutnya akan diadakan perbaikan skor dimana pemberian skor didasarkan skor pretest dan posttest.
-
Tahap Penyajian Materi Pelajaran
Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI
Model pembelajaran TAI adalah suatau model pembelajaran kooperatif yang
dikemukakan oleh Slavin, 1995. "Teams Assisted Individualization" dapat
diartikan sebagai kelompok yang dibantu secara individual atau kelompok dimana
ada seorang
asisten
yang membantu secara individual atau TAI merupakan model pembelajaran secara
kelompok dimana terdapat terdapat seorang siswa yang lebih mampu berperan
sebagai asisten yang bertugas membantu secara individual siswa lain yang
kurang mampu dalam satu kelompok. Dalam hal ini peran guru hanya sebagai
fasilitator dan mediator dalam proses belajar mengajar. Guru cukup menciptakan
kondisi lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya.
Baca juga: Komponen Pembelajaran
Secara umum TAI terdiri dari delapan komponen utama, yaitu :
-
Kelompok / Tim
Siswa dalam satu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok yang masing-masing terdiri dari 4-5 orang siswa yang mewakili bagian dari kelasnya dalam menjalankan aktivitas akademik, jenis kelamin, dan suku atau etnik. Fungsi utama dari kelompok adalah membentuk semua anggota kelompok agar mengingat materi yang telah diberikan dan lebih memahami materi yang nantinya digunakan dalam persiapan mengerjakan lembar kerja.
-
Tes Pengelompokan
Siswa-siswa diberi tes awal pada awal program pengajaran. Hasil dari tes awal ini digunakan sebagai pedoman dalam pembentukan kelompok berdasarkan point yang mereka peroleh.
-
Materi Kurikulum
Proses pengajaran harus sesuai dengan materi yang terdapat dalam kurikulum yang berlaku dengan menerapkan teknik dan strategi pemecahan masalah untuk penguasaan materi.
-
Kelompok Belajar
Berdasarkan tes pengelompokan maka dibentuk kelompok belajar. Siswa dalam kelompoknya mendengarkan presentasi dari guru dan mengerjakan lembar kerja. Jika ada siswa yang belum paham tentang materi dapat bertanya pada anggota lainnya atau ketua yang telah ditunjuk, kalau belum paham juga baru meminta penjelasan dari guru.
-
Penilaian dan Pengakuan Tim
Setelah diberikan tes, kemudian tes tersebut dikoreksi dan dinilai berdasarkan kriteria tertentu. Tim akan mendapatkan sertifikat atau penghargaan jika dapat melampaui kriteria yang telah ditentukan.
-
Mengajar Kelompok
Materi yang belum dipahami oleh suatu kelompok dapat ditanyakan kepada guru dan guru memberikan penjelasan pada kelompok tersebut. Pada saat guru mengajar, siswa dapat sambil memahami materi baik secara individual dan kelompok dengan kebebasan yang bertanggung jawab. Dalam hal ini keaktifan siswa sangat diutamakan.
-
Lembar Kerja
Pada setiap materi yang diajarkan diberikan lembar kerja secara individual untuk mengetahui pemahaman individu.
-
Mengajar Seluruh Kelas
Setelah akhir dari pengajaran pokok bahasan suatu materi guru menghentikan program pengelompokan dan menjelaskan konsep-konsep yang belum dipahami dengan strategi pemecahan masalah yang relevan serta memberikan kesimpulan dari materi tersebut. Dalam pelaksanaannya metode pembelajaran kooperatif TAI dibagi dalam :
-
Pengelompokan
Sebelum pengajaran TAI, dilaksanakan suatu tes awal yang menyangkut tentang konsepkonsep yang akan diajarkan. Tes awal ini berguna dalam pembentukan kelompok agar penyebaran siswa berdasarkan point yang didapat pada tes awal tersebut secara homogen. Selain itu tes awal ini juga digunakan untuk menunjuk ketua atau asisten yang memimpin suatu kelompok.
-
Tahap Penyajian Materi
Penyajian materi dilakukan melalui :
-
Pengajaran kelompok
jika terdapat materi pelajaran yang kurang dipahami dalam suatu kelompok, maka kelompok tersebut dapat meminta penjelasan dari guru untuk menjelaskan materi yang belum dipahami tersebut., sedangkan kelompok lain dapat melanjutkan pekerjaannya. -
Pengajaran seluruh kelas.
pengajaran ini dilakukan pada akhir proses pembelajaran. Guru menyimpulkan penekanan materi yang dianggap penting.
-
Pengajaran kelompok
-
Kegiatan Kelompok
Setelah terbagi dalam kelompok-kelompok, masing-masing individu mengerjakan tugas yang diberikan guru melalui lembar kerja. Mereka bekerja sebagai satu tim, jika terdapat kesulitan dipecahkan secara bersama-sama dengan kelompoknya.
-
Pengelompokan
